”Dian ayo bangun..! katanya mau puasa. Ayo sahur..!!”
Mama menggoyang-goyangkan tubuh Dian lebih keras. Gagal. Dian malah menutup mukanya dengan bantal. Mama merasa usahanya sia-sia. Berkali-kali dibangunkan tetap tak mau bangun. Dengan geleng-geleng kepala, Mama berlalu meninggalkan kamar Dian.

“Hoaaammmzzz…”
Dian bangun ketika mendengar azan subuh berkumandang. Dian mendengar suara kakak-kakaknya tengah mengaji bersama Mama. Papanya telah pergi ke Surau untuk menunaikan salat berjemaah.

“Dian, kenapa tak sahur? Kamu mau puasa apa tidak?” Tanya kak Tami.
“Puasa dong, Kak. Tenang saja. Kemarin saja Dian kuat puasa kok meskipun cuma makan sahur sedikit ditambah segelas susu. Jadi hari ini Dian pasti kuat puasa kok meskipun tanpa sahur,” Sahut Dian sembari memakai mukena.

Hari ini hari pertama sekolah setelah sepekan penuh libur awal Ramadan. Dian sangat bersemangat pergi ke sekolah. Sebelum Ramadan, ia dan teman-temannya telah bersepakat untuk menceritakan pengalaman masing-masing. Dian sudah mulai terbiasa berpuasa. Di awal Ramadan memang ia hanya kuat sampai Zuhur, terkadang sampai Asar. Nah, dua hari belakangan Dian sudah mampu berpuasa sampai Maghrib.

Seperti biasa, Ia mengayuh sepedanya sampai sekolah. Setelah memarkir sepeda, ia merogoh saku samping tas ranselnya. Namun, ia tak menemukan apa yang ia cari.

“Eh iya, aku kan puasa. Pantas enggak ada botol minum di saku tas,” Dian terkekeh sendirian menyadari keterlupaannya. Tenggorokannya terasa sedikit haus. Ia ingat tak minum apapun saat sahur tadi.

“Dian!! Apa kabar?” seseorang menepuk bahu Dian dari belakang.
“Eh, Lisa! Aku baik dong! Kamu puasa?” Dian tak sabar mendengar tentang puasa Lisa. Ia ingin membanggakan keberhasilan puasanya.
“Aku puasa. Tetapi cuma sampai Zuhur. Mama bilang tidak apa-apa kan masih belajar,” jawab Lisa
“Aku nih, udah dua hari loh aku puasa sampai Maghrib terus. Padahal cuma sahur sedikit. Hari ini malah aku tidak sahur. Tapi aku mau puasa sampai Maghrib.”
“Waahh hebat! Yuk masuk kelas!”

Pelajaran dimulai. Pak Teguh menyuruh anak-anak untuk belajar kultum. Dian mendapat giliran untuk bercerita di depan kelas tentang kisah Nabi Muhammad. Dengan semangat membara Dian menceritakan perjuangan-perjuangan Nabi Muhammad dalam berdakwah dan menyebarkan Islam.

Setelah bercerita, Dian dipersilakan untuk duduk kembali. Entah kenapa kepalanya menjadi pusing. Tenggorokannya terasa kering. Dian sadar, perutnya keroncongan. Ia menunduk, melihat jam tangannya. “Aduh, padahal baru jam sembilan. Kok lapar sekali ya?” Gumamnya dalam hati.

Teeeetttttttttttt!!!!
Pukul 11 bel berbunyi. Tanda jam pelajaran telah berakhir. Pada Ramadan, sekolah memang pulang lebih awal.
Cuaca sangat terik. Dian melihat ke atas, sinar matahari seperti menusuk-nusuk kulitnya. Sekuat tenaga ia kayuh sepedanya menuju rumah. Haus, lapar dan lelah.

Aneh, padahal kemarin jam segini aku masih belum lapar sama sekali,” Dian mencoba menguatkan diri. Lidahnya tak hentinya mengecap dan menelan air liurnya. Jarak rumah terasa sangat jauh.
“Dian, kamu pucat sekali?” tanya Mama menghampiri dan mengusap lembut rambut Dian.
Bruuggg!!!!!!

Dian mengempaskan diri ke sofa ruang tamu. Tasnya ia lempar sembarangan. “Ma, Dian lemas!” Dian mulai merengek.
“Pasti karena kamu tidak sahur. Sudah berbuka saja…mama ambilkan makanan ya?”
“Jangan Ma!” Cegah Dian
“Dian mau puasa. Masa kemarin Dian sampai Maghrib, sekarang Cuma sampai Zuhur? Dian sudah bilang sama Lisa akan puasa penuh hari ini. Malu dong kalau batal!” Dian terlihat manyun.

Mama menatap putri semata wayangnya, kemudian duduk di sampingnya. “Hm..jadi kamu puasa karena ingin dipuji Lisa?”
“Ya nggak juga Ma. Kan kata Mama kalau puasa disayang Tuhan. Dian pengin disayang Tuhan.”
“Kok tadi bilang malu sama Lisa?”
“Soalnya Dian sudah bilang akan puasa penuh…”
“Sekarang Mama tanya. kalau Dian berbuka sekarang…, Lisa tahu tidak?” tanya mama sambil mencolek hidung Dian.

“Ya enggak Ma, kan Lisa nggak lihat,” jawab Dian
“Allah tahu tidak kalau Dian berbuka?” tanya Mama kembali.
“Ya tahu dong Ma. Kan Allah maha mengetahui…”
“Nah itu Dian tahu, jadi Dian enggak perlu pedulikan pendapat Lisa. Yang penting Allah rida dengan puasa Dian. Puasa Dian karena dilihat Allah, bukan dilihat Lisa,” kata Mama menjelaskan.
“Iya Ma, tapi Dian lemes sekarang..” Ucapan Dian terdengar mulai melemah. Mama menjadi iba dan kasihan. Akhirnya, Dian tak kuat menahan lapar dan haus. Ia pun berbuka.

“Dian!! Bangun!! Ayo sahuur..!” Mama mencoba membangunkan Dian, namun lagi-lagi ia hanya menggeliat. Mama menggelengkan kepala dan hendak meninggalkan Dian di kamar.
“Dooorr!!!” Dian berteriak kemudian meloncat dari tempat tidur. Dian memeluk Mama. “Iya Mama sayang.., Dian mau sahur biar puasanya kuat! Sahur kan penting!” ucap Dian riang.

 

Like Fans Page Zona Krucil: https://goo.gl/WMuwF1