Robi melamun. Tidak seperti biasanya yang selalu antusias menyambut rencana liburan ke rumah kakek dan neneknya di desa. Kali ini dia justru merasa gelisah dan tidak nyaman.

“Robi, kamu kenapa? Apa kamu ingin liburan di tempat lain?” tanya sang Ayah
“Ehm, tidak. Robi senang liburan ke rumah kakek,” jawabnya gugup.

Ayah menghela nafas panjang. Sebenarnya ayah tahu jika Roby masih sedih karena posisinya sebagai bintang kelas digantikan oleh temannya, Rindu. Roby tidak malas, bahkan dia sudah berusaha keras untuk belajar. Sayangnya demam berdarah membuatnya harus absen ikut ujian karena harus opname di rumah sakit untuk beberapa hari lamanya.

Setelah sembuh, Roby mengerjakan ujian susulan di ruang guru. Suasana yang kurang nyaman membuat konsentrasi Roby jadi terganggu. Akibatnya, dia gagal mengerjakan beberapa soal ujian dengan maksimal.

Sebenarnya hal itu bukanlah masalah besar. Toh selisih nilainya dengan Rindu juga sangat kecil, hanya dua angka. Bahkan, Ayah dan ibu tetap bangga dan bahagia dengan pencapaian Roby. Namun sayangnya hal itu masih belum cukup. Rasa bersalah membat Roby jadi pendiam.

“Roby, kamu sudah siap?” tanya ibu yang tiba-tiba muncul dari pintu kamar. “Iya, Bu. Sebentar lagi selesai ini, jawabnya sambil terus mengemasi barang bawaannya.
“Eh, anak ibu senyum dong, kenapa murung begitu?” goda ibunya.
Robi tersenyum kaku. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya, yang jelas dia merasa malu jika nanti kakek dan neneknya tahu kalau dia bukan bintang kelas lagi.

***

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Roby dan keluarganya sampai di halaman rumah kakeknya di desa. Roby melihat wajah bahagia kakek dan neneknya yang semringah dari balik jendela mobilnya. Melihat kehadiran anak dan cucunya, mereka pun turun ke halaman rumah untuk menyambutnya.

“Duh, cucu kakek yang paling ganteng,” ujar Kakek seraya merangkul tubuh Roby.
Roby tersenyum seraya membalas pelukan kakek yang dirindukannya, “Kakek apa kabar?” tanyanya.
“Baik.. baik, kamu sendiri bagaimana?” tanya kakek.
“Roby baik, Kek,” jawab Roby mulai cemas. Dia takut kakeknya bakal tanya apakah dia menjadi juara tahun ini.

Roby lega, karena ternyata kakek tidak bertanya masalah itu. Roby tidak tahu jika sebenarnya ayah dan ibunya sudah menceritakan semuanya pada kakeknya.
Keesokan paginya, Kakek mengajak Roby latihan memanah di lapangan belakang rumah. Dengan telaten, kakek mengajarkan Roby memanah. Awalnya Roby tidak bisa, tapi setelah berusaha akhirnya dia berhasil.

“Yes, aku bisa, Kek!” ujarnya senang.
“Iyaa, memang cucu kakek ini sangat hebat, kakek bangga padamu,” puji kakeknya.
Mendadak Roby murung, “tapi Roby tidak hebat lagi, Kek. Roby tidak jadi bintang kelas lagi,” ujarnya memelas.

Kakek terkekeh mendengar pengakuan Roby, “baru kalah sekali saja, kamu sudah putus asa. Dulu kakek juga sering mengalami kegagalan, tapi kakek tetap semangat.”
Dengan semangat, Kakek bercerita tentang masa mudanya dulu. Roby mendengarkan dengan penuh seksama dan akhirnya diapun bisa tersenyum ceria.

“Jadi, asal mau berusaha, Roby bisa jadi lebih hebat lagi ya, Kek?” tanyanya manja.
“Pasti, kakek yakin kamu akan lebih hebat lagi dari sebelumnya, seperti anak panah ini, dia akan melesat lebih jauh lagi ketika kita menariknya mundur,” lanjut kakek tak hentinya menyemangati.

“Yess, benar juga ya, Kek. Roby boleh mundur saat ini, tapi tahun depan Roby akan berusaha lebih melesat lagi,” ujarnya bersemangat.
Kakek mangut-manggut melihat semangat cucunya kembali lagi, “Ini baru cucu kakek!” keduanya tertawa lepas seraya saling pandang.

 

Like Fans Page Zona Krucil: https://goo.gl/WMuwF1