Ayah-Bunda, pernah enggak mengalami hal ketika anak melakukan tindakan negatif, ketika diingatkan, dia malah lebih intens melakukannya. Kenapa ya?

Kita perlu mempertimbangkan kembali cara berkomunikasi. Bisa jadi, ortu langsung bilang kepada anak,” Jangan lakukan itu!” Atau muncul kalimat begini: ”Hei, setop. Hentikan!” Kalimat-kalimat itu muncul dengan nada tinggi alias kalimat hentakan. Ya, kita melarang anak melakukan sesuatu dengan marah. Kenapa demikian?

  • Anak semakin penasaran. Begitu dilarang, dia semakin ingin mencobanya. Coba ganti kalimat yang negatif (jangan, hentikan, dsb) dengan kalimat yang positif. Misalnya,” Adik kan sudah besar, tidak pas menulisi tembok pakai spidol.” Ketika anak disentil bahwa mereka sudah besar, biasanya mereka akan berpikir. Mereka ingin diakui sebagai orang yang sudah dewasa.
  • Kurangi volume kalimat. Ketika ortu melarang dengan nada tinggi, anak semakin nekat melakukan perbuatan itu. Mungkin anak akan melakukan perbuatan pada waktu lainnya.
  • Intensifkan komunikasi, bukan berisi perintah atau larangan. Misalnya, anak berebut mainan, ortu bisa bilang begini: ”Nak, mainan itu cuma satu. Bagaimana kalau mainnya gantian?” Model lainnya aalah mengapresiasi anak jika sudah meninggalkan tindakan negatif itu. ”Wah hebat anak ayah, sudah bisa bertindak seperti anak besar.”

 

IG : @zonakrucil
FB : Zona Krucil