Di sebuah hutan, tinggallah seekor kuda hitam jantan bernama Kiko. Dia tinggal bersama ayah dan ibunya. Kiko adalah kuda yang ramah dan baik. Oleh sebab itu, dia mempunyai banyak teman. Tapi sayangnya dia pincang karena pernah terjerembab di sebuah lubang besar.

Suatu hari, Kiko sedang bersantai di rumahnya. Tiba- tiba dari kejauhan terdengar derap kuda yang asing. Karena penasaran, Kiko pergi melihatnya.
Dia keluar rumah lalu berlari menuju tepi jalan setapak. Terlihat seekor kuda putih jantan yang berlari dengan gagahnya. Surainya berwarna keemasan memantulkan cahaya matahari. Tapi kuda itu tidak sendiri, ada orang yang menungganginya. Kiko takjub, belum pernah dilihatnya kuda yang seindah itu. Selama ini dia hanya biasa melihat kuda cokelat atau hitam.

“Ah, gagahnya. Dia bisa berlari dengan kencang dan mempunyai bulu putih yang indah. Coba bandingkan dengan aku yang pincang dan hitam kusam ini. Pasti beruntung sekali kuda yang mempunyai bulu seindah itu,” kata Kiko iri.
Jujur saja, Kiko tidak suka dengan penampilan dirinya sendiri. Dia menganggap kulit hitamnya itu kusam. Selain itu, kondisi kakinya yang pincang membuatnya tidak percaya diri.

Tiap hari, kuda putih itu melintas di jalan setapak depan rumah Kiko. Tapi Kiko sungkan mengajak bicara karena kuda putih itu selalu bersama orang yang menungganginya.

Suatu hari, Kiko berjalan-jalan menuju hutan sebelah selatan. Dia jarang merambah daerah itu karena sangat jauh dari rumahnya. Tanpa disadari tiba-tiba dia sudah sampai di perbatasan hutan dengan perkampungan manusia. Dan tak disangka, di sana dia melihat kuda putih itu.

Kuda itu ada di sebuah kandang yang ditutupi dengan pagar. Kiko pun memberanikan diri berjalan menuju kandang tersebut.
“Halo. Apakah kamu kuda yang sering berlari di jalan setapak itu?” tanya Kiko.
“Ya betul. Aku dan majikanku biasa pergi ke utara hutan untuk berdagang. Apakah kamu sering melihatku?” kuda putih itu bertanya ramah.

“Ya, setiap hari aku melihatmu lewat depan rumahku. Kapan–kapan kamu bisa berkunjung dan bertemu ayah ibuku. Oya, namaku Kiko. Salam kenal.”
“Namaku Rama. Salam kenal juga.”
“Selama ini, aku kagum padamu. Kamu bisa berlari dengan kencang dan punya bulu putih yang indah. Sedangkan aku hanyalah kuda pincang yang berbulu hitam kusam. Pasti kamu adalah kuda yang beruntung,” kata Kiko.
“Siapa bilang? Menurutku, kuda yang beruntung itu adalah kamu.”
“Bagaimana bisa?” tanya Kiko keheranan.

“Kamu mungkin pincang. Tapi aku yakin, kamu sudah berkeliling hutan ini sampai puas. Kamu bebas berlari ke mana saja tanpa ada yang mengekangmu. Sedangkan langkahku selalu ditentukan majikanku. Aku tidak bisa bebas berlari ke mana saja.”
“Iya. Mungkin aku bisa bebas pergi ke mana saja. Tapi, aku iri dengan bulumu yang indah.”
“Apa gunanya berbulu indah? Aku dijual ke majikanku karena buluku ini. Beruntungnya kamu yang masih tinggal dengan ayah dan ibumu. Aku tidak pernah bertemu mereka. Karena buluku ini, majikanku tertarik denganku. Jadi aku dijual saat berumur satu bulan. Di sini, aku tidak punya teman. Karena satu-satunya kuda di daerah ini hanyalah aku,” kata Rama sedih.

“Ah, aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Kupikir kamu adalah kuda beruntung yang bahagia. Bukankah tadi kamu bilang bahwa kamu tidak punya teman? Bagaimana jika berteman denganku saja? Aku akan sering berkunjung ke daerah sini untuk menemanimu,” Kiko menjawab.

“Tentu saja aku mau berteman denganmu. Pasti akan menyenangkan sekali,” ujar Rama. Dan mereka berdua lama mengobrol sampai matahari hampir terbenam.
Di perjalanan pulang, Kiko berpikir. Betapa selama ini hidupnya sangat beruntung. Dia bisa berkeliling hutan sepuasnya, bebas berlari ke mana saja, masih tinggal dengan ayah dan ibunya, dan memiliki banyak teman.

Seperti kata pepatah rumput tetangga selalu tampak berwarna lebih hijau. Rama yang tampak sempurna ternyata tidak bahagia. Sejak itu, Kiko berjanji untuk selalu mensyukuri hidupnya. Dan kini, dia punya sahabat baru. Rama namanya.

 

IG : @zonakrucil
FB : Zona Krucil