Sepekan lagi ada lomba azan untuk anak-anak di masjid tempat tinggal Zaki. Hampir semua anak laki-laki di kompleks tersebut mendaftarkan diri.

Zaki menjadi salah satu di antara mereka yang ingin mendaftarkan diri. Namun ia ragu setelah mendengar kata-kata dari Ozan. “Hei, Zaki, kamu tidak perlu ikut lomba azan. Bisa-bisa nanti jurinya malah bingung tidak bisa menilai kamu karena enggak dengar suara azannya,” kata Ozan diikuti tawa teman-temannya yang lain.

Zaki hanya tertunduk diam. “Jangan begitu, Zan. Setiap anak laki-laki di sini, kan boleh ikut,” bela Adi.
“Tidak apa-apa, Di. Apa yang dikatakan Ozan memang benar,” ujar Zaki lemah.

Zaki memang memiliki volume suara yang kecil. Seringkali Zaki harus mengulang apa yang dikatakannya pada lawan bicaranya. Tak jarang beberapa dari lawan bicaranya marah dengan volume suara Zaki yang kecil bahkan kadang tak terdengar.

Zaki terduduk lemas di ruang keluarga. Dia hanya bisa mendengarkan Fajar, kakaknya yang sedang berlatih untuk lomba azan.
Fajar yang melihat adiknya berhenti berlatih dan duduk di samping Zaki. “Kenapa dari tadi diam saja, sih?” tanya Fajar.

“Tidak apa-apa, kok,” jawab Zaki lirih.
“Kenapa?” tanya Fajar lagi sambil mendekatkan telinganya ke arah Zaki.
“Tidak apa-apa, Kak. Zaki baik-baik saja, kok,” jawab Zaki agak kencang.
“Tidak apa-apa, kok, mukanya ditekuk gitu,” balas Fajar. “Eh iya, kamu tidak latihan buat lomba azan nanti? Kan, waktuya tinggal tiga hari lagi,” lanjut Fajar.
“Aku tidak ikut,” Zaki menjawab dengan lirih.
“Kenapa tidak ikut? Bukannya kamu yang waktu itu lebih semangat berlatih setelah mendengar ada lomba azan di kompleks kita?!”
“Kata Ozan suaraku terlalu kecil. Bisa-bisa juri tidak bisa dengar.”
“Omongan dia tidak usah kamu dengarkan. Kalau kamu ingin ikut, ya tinggal ikut aja,” ujar Fajar.
Zaki tertunduk menghela nafas.

Hari perlombaan tiba. Seusai salat Tarawih dan tadarus, orang-orang berkumpul di dekat panggung di samping masjid. Semua anak yang ikut lomba maju satu persatu mengumandangkan azan. Orang tua yang mendengar suara azan anaknya terharu.
Fajar tampil di urutan kedua. Di sana juga ada Zaki, namun sayang dia hanya sebagai penonton. Kata-kata Fajar tak berhasil meyakinkan Zaki untuk ikut lomba.
Zaki menyaksikan lomba azan itu dengan perasaan campur aduk. Dia senang mendengar suara azan dari teman-temannya. Apalagi ketika mendengar suara azan kakaknya. Namun di sisi lain, dia merasa sedih karena tak ikut lomba itu.

“Nananana…” Fajar berdendang sembari membersihkan trofi miliknya. Dia menang juara dua lomba azan.
“Zaki, terlihat mengkilat kan?” tanya Fajar.
“Hm, iya.” Zaki mengangguk lemah.
“Lemas banget sih jawabnya,” kata Fajar. “Kamu pengin, ya?” tanya Fajar setengah meledek.
“Tidak, kok.”
“Sudah, deh. Mengaku saja!”
“Kalau aku bilang tidak, ya, tidak!” teriak Zaki.
Fajar kaget. Zaki terlihat kesal dengan kata-kata Fajar.
Ibu datang dari arah dapur menuju meja makan.
“Eh, sudah-sudah. Ayo, bantu Ibu menyiapkan makanan berbuka!” Ibu menengahi adu mulut anaknya.

Zaki dan Fajar membawa makanan dari dapur menuju meja makan. Sementara itu Ayah baru selesai mandi dan duduk di meja makan.

“Nah, gitu dong, adik kakak harus bisa kerja sama,” kata Ayah, tak tahu apa yang baru saja terjadi.
Zaki dan Fajar tak terlalu memperdulikan kata-kata ayahnya.
Setelah semuanya tersaji di atas meja, mereka duduk manis menunggu azan Magrib. “Allahu Akbar Allahu Akbar…” suara azan terdengar.
“Alhamdulillah,” ucap Ibu.
“Eh, tunggu, itu kok kaya suaranya Zaki?” tanya Fajar heran.
“Apanya yang kaya suaraku?” Zaki balik bertanya.
“Itu hlo, suara azannya. Iya kan, Yah?” Fajar memastikan pada ayahnya. Ayah yang sedang menyeruput teh hangat berhenti. Ayah mencoba mendengarkan dengan seksama.

“Itu suara azan di radio, Bu?” Ayah bertanya pada Ibu.
“Iya,” jawab Ibu singkat.
“Sepertinya benar itu suara Zaki,” kata Ayah.
“Tidak salah lagi itu suara Zaki. Ayah yakin sekali. Karena Ayah sering mendengar Zaki berlatih azan di kamarnya,” lanjut Ayah mantap.
“Ah, mana mungkin suara azan Zaki bisa sampai di radio?!” Zaki tidak yakin.
“Itu mungkin saja,” kata Ibu.

Semua mata memandang ke arah Ibu. Kenapa Ibu mantap sekali mengatakan itu? pikir Fajar.
“Ini,” Ibu memberikan sebuah bingkisan pada Zaki.
“Apa itu?” tanya Zaki, Ayah, dan Fajar bersamaan.
“Zaki, selamat, ya!” ucap Adi.
“Aku kemarin dengar hlo di radio. Suara azan kamu bagus juga,” puji Adi. Zaki tersipu malu.

Teman-teman dan tetangga Zaki kagum. Mereka tak mengira di lingkungan tempat tinggalnya ada muazin cilik dengan suara yang indah.
Ozan dan teman-teman yang sebelumnya sempat mengejek Zaki hanya terdiam. Mereka malu pada Zaki.

Ini semua berkat Ibu. Ternyata di saat Zaki sedang berlatih azan Ibu diam-diam merekamnya. Ibu tahu ada lomba azan untuk anak di radio. Ibu mengirimkan rekaman azan milik Zaki. Tak disangka suara azan milik Zaki lolos. Alhasil, rekaman azan Zaki diperdengarkan saat beduk Maghrib selama Ramadan.
Zaki memang tak men­dapatkan tropi seperti Fajar. Tapi, dia mendapat sarung dan baju koko. Ditambah lagi Ozan dan teman-temannya tak lagi berani mengejek Zaki soal volume suaranya yang kecil.

 

Like Fans Page Zona Krucil: https://goo.gl/WMuwF1