Izzah ingin sekali makan pizza. Izzah sering melihat pizza di televisi. Rasanya pasti enak sekali. Izzah meminta pada ibunya untuk dibelikan pizza. Tapi kata ibu, harga pizza mahal dan membelinya di kota. Di kampung Izzah tidak ada yang menjual pizza.
Uff, kota cukup jauh dari desa Izzah. Bagaimana cara Izzah ke kota? Ibu tentu tidak mengizinkan Izzah pergi ke kota sendiri.
Aha! Izzah punya ide. Izzah meminjam ponsel ibu, lalu menelepon ayahnya.

“Ayah. Kapan ayah pulang?” tanya Izzah melalui ponsel.
“Nanti malam,” terdengar suara ayah menjawab.
“Ayah, tadi di sekolah ada teman yang bawa pizza. Ia membagi-bagikan pizza, tapi Izzah tidak kebagian. Izzah ingin sekali makan pizza, Ayah. Maukah ayah membelikan pizza untuk Izzah?”
“Pizza? Mmm…baiklah akan ayah usahakan.”
“Terima kasih, Ayah.”

Yes! Izzah bersorak gembira. Ayah akan membelikan pizza. Ayah Izzah adalah seorang sopir truk yang sering pergi ke berbagai kota. Izzah menunggu ayah pulang. Sampai pukul 23.30, Izzah belum juga tidur.
Tak lama kemudian, terdengar suara truk ayah memasuki halaman rumah.
“Ayah pulang,” seru Izzah, lalu membukakan pintu rumah.
Izzah melihat ayah menenteng tas plastik hitam.

“Hore! Ayah bawa pizza,” tebak Izzah, lalu meraih plastik itu dari tangan ayah.
“Bukan, Izzah. Itu nasi goreng,” kata ayah.
“Kok nasi goreng sih, Yah? Izzah kan pesan pizza?” kata Izzah sedih.
“Maafkan ayah, Nak. Ayah sudah mencari toko yang menjual pizza di sepanjang jalan, tapi tidak ketemu. Toko pizza adanya di pusat kota. Truk ayah tidak boleh masuk ke pusat kota. Jadi, ayah beli nasi goreng saja. Ini juga enak kok,” kata ayah mencoba menghibur Izzah.

“Tidak mau! Izzah ingin pizza!” kata Izzah cemberut. Izzah masuk kamar. Menangis.
Sudah sepekan Helen, teman sebangku Izzah tidak masuk sekolah. Kaki Helen terkilir saat sedang bersepeda. Namun, hari ini Helen sudah masuk sekolah lagi. Helen ketinggalan banyak materi pelajaran. Karena itu Helen meminta bantuan pada Izzah. Nanti sore Izzah akan mengajari pelajaran matematika.
Pukul 15.00 Izzah sampai di rumah Helen. Rumah Helen besar. Helen anak orang kaya. Ayah Helen seorang pengusaha.

“Kita belajar di ruang tengah saja, ya?” kata Helen.
“Oke.”
Izzah segera membimbing Helen materi matematika yang tertinggal. Mudah bagi Izzah mengajari Matematika, karena ia memang ahli pelajaran matematika. Tak terasa satu jam berlalu.
“Istirahat dulu, ya? Capek, nih,” kata Helen.
Izzah mengangguk.

“Tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untuk kamu,” kata Helen, lalu menuju ke ruang lain. Tak lama kemudian Helen datang membawa sesuatu berbungkus kardus.
“Teng, teng. Hidangan datang,” kata Helen, lalu membuka kardus itu.
Wauw… pizza berukuran lingkaran besar. “Wah, besar sekali. Kamu beli di mana, Helen?” tanya Izzah.
“Di kota. Ayahku yang beli. Ayo dimakan,” sahut Helen.

Izzah mengambil sepotong pizza. Memakannya. Hmm, enaaak sekali.
“Gimana? Enak, nggak?” tanya Helen.
“Enak, enak sekali,” jawab Izzah bersemangat.
“Ayo, ambil lagi,” kata Helen.
Izzah mengambil lagi sepotong pizza. Melahapnya dalam sekejap. Dua potong pizza sudah masuk ke perut Izzah.

“Ayo, tambah lagi. Habiskan saja,” kata Helen.
“Tidak, terima kasih. Aku sudah kenyang,” jawab Izzah sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.
“Sisanya kamu bawa pulang saja, ya?” kata Helen.
“Sungguh?”

Helen mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih, Helen,” ujar Izzah gembira.
Pulang dari rumah Helen, Izzah membawa pizza. Izzah akan memberikan pizza itu untuk ayah dan ibunya. Tak lupa Izzah bersyukur pada Tuhan, karena keinginannya memakan pizza telah terkabul.