Dahulu kala di tepi Bengawan Solo ada sebuah kerajaan yang rakyatnya hidup rukun, aman, damai dan makmur. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana. Salah satu kebijakan Sang Raja, jika ada salah seorang rakyatnya mampu berprestasi, selalu ia beri hadiah berupa barang atau kedudukan.

Salah satu rakyat yang berprestasi adalah Joko Sembada. Ia seorang pemuda bersahaja dan sangat sayang terhadap berbagai jenis binatang. Hampir semua binatang akan tunduk terhadap perintahnya. Keahliannya itu dimanfaatkan oleh Sang Raja. Joko Sembada dipercaya merawat binatang kesayangan Sang Raja berupa lima ekor singa yang tergolong galak dan buas.

Berhasil memelihara lima ekor singa, Sang Raja memberikan hadiah berupa kedudukan. Joko Sembada diangkat dan dipercaya menjadi abdi kepercayaan Sang Raja serta seorang putera mahkotanya yang kelak diharapkan menjadi penggantinya.

Karena usia, Sang Raja wafat. Kedudukannya digantikan oleh putera tunggalnya. Sayangnya ia tidak memiliki sifat baik seperti almarhum ayahandanya. Jika ada seorang rakyatnya melakukan kesalahan, tak segan-segan menghukumnya. Lebih-lebih ada orang yang melakukan pelanggaran berat, orang tersebut harus dihukum mati dengan cara dimasukkan ke dalam kandang singa untuk makanannya.

Kini banyak rakyat yang mulai tidak menyukai rajannya yang tidak mengenal peri kemanusiaan ini. Bahkan ada yang memilih untuk pergi meninggalkan wilayah kerajaan sebagai tempat kelahirannya. Mereka takut jika melakukan kesalahan sedikit saja harus menerima hukuman yang berat. Jelas ini tidak adil.

Suatu hari, Sang Raja mengharapkan kedatangan Joko Sembada segera ke istana. Ketika dalam perjalanan Joko Sembada membantu orang yang sangat membutuhkan pertolongan, sehingga Joko Sembada terlambat datang ke istana.

“Ampun, Baginda, hamba datang terlambat…“ kata Joko Sembada sambil menunduk ketika menghadap Sang Raja. Sang Raja tidak menjawab. Matanya melotot menunjukkan kemarahannya.

“Ampun… Hamba bersalah. Ketika di perjalanan, hamba harus menolong seseorang yang sakit keras,” kata Joko Sembada selanjutnya. “Kamu sudah mengabdi di istana ini berapa tahun?” tanya Sang Raja bernada keras. “Sejak Ayahanda menjadi raja, Baginda!” jawab Joko Sembada sambil menunduk.  “Jadi sudah berapa tahun?” tanya Sang Raja sambil sigap berdiri dari tempat duduknya. “Hampir 25 tahun, Baginda…”

“Mestinya kamu tahu aturan yang berlaku di istana ini!” bentak Sang Raja. Joko Sembada mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah kamu tidak tahu, siapa yang memerintahkan kamu untuk segera menghadap ke istana ini?” tanya Sang Raja dengan emosinya.

“Ampun, Baginda…!“
“Karena sudah menjadi peraturan, siapa saja yang bersalah harus dihukum, maka kamu sepantasnya untuk menerima hukuman ini. Tahu!”
“Ampun, Baginda… Bukankah kesalahan saya tergolong sangat ringan?” tanya Joko Sembada. “Apa? Ringan kesalahnmu?” bentak Sang Raja. Joko Sembada kembali menundukkan mukanya.

“Mau tahu kesalahanmu? Kamu tidak mengindahkan perintahku. Datang terlambat. Tidak tahukah kamu, siapa aku ini? Aku ini Raja…. Raja…!” kata Sang Raja sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri.

“Baiklah, Baginda, hamba salah. Hamba bersedia menerima hukuman dari Baginda Sang Raja,” kata Joko Sembada sambil meneteskan air mata.
“Sebagai hukuman abdi yang tidak disiplin dan setia, maka saya putuskan, kamu harus dihukum mati dan ragamu dijadikan makanan singa!”

“Ampun, Baginda Raja…” kata Joko Sembada memohon belas kasih sambil bersujud di hadapan Sang Raja.
“Tidak! Apa yang sduah menjadi perintahku, harus dilaksanakan!“
“Jika Baginda berkenan, izinkan hamba untuk pulang sebentar dan berpamitan kepada isteri dan anak-anak hamba…” pinta Joko Sembada lagi.“Tidak! Pengawal… bawa orang ini dan masukkan ke kandang singa!” perintah Sang Raja kepada beberapa orang pengawal yang berdiri di samping kanan kirinya.

Dengan amat kasar para pengawal itu menyeret Joko Sembada untuk dibawa masuk ke kandang singa yang terkenal ganas dan buas.
Akan tetapi apa yang terjadi ketika Joko Sembada dimasukkan ke dalam kandang singa? Apakah singa-singa yang buas itu lalu memangsanya? Tidak. Singa-singa yang terkenal ganas dan buas itu malah mencium-cium badan Joko Sembada. Bahkan ketika kedua tangannya diangkat, singa-singa itu duduk terdiam di hadapannya.

Para pengawal raja yang melihat dari luar kandang merasa kagum dan bertanya dalam hati melihat kejadian itu. Siapakah orang ini hingga binatang buas tunduk kepadanya? Bahkan ada yang menganggap bahwa Joko Sembada memiliki kesaktian.
Kini para pengawal merasa ketakutan sendiri. Selanjutnya kembali ke istana dan menghadap Sang Raja.

“Bagaimana, sudah habis bangkainya?” tanya Sang Raja ketika menemui pengawal-pengawalnya. “Ampun, Baginda… orang itu aneh…” jawab salah seorang pengawal.
“Aneh? Apa yang aneh?” tanya Sang Raja. “Saat orang itu hamba masukkan ke dalam kandang singa, singa-singa tidak segera memangsanya. Bahkan singa-singa itu tunduk dan menuruti semua perintahnya!”

Mendengar laporan pengawal demikian itu, Sang Raja tidak percaya. Dengan sigap kakinya melangkah menuju ke kandang singa. Dengan mata kepalanya sendiri Sang Raja melihat kejadian aneh. Di dalam kandang Joko Sembada duduk berhadap-hadapan dengan lima ekor singa. Seakan-akan mereka sedang membicarakan sesuatu.

Sang Raja tidak tahu bahwa Joko Sembada memiliki kemampuan berbicara dengan binatang buas. Dari mana kemampuannya ini ia peroleh. Joko Sembada sangat memperhatikan dan menyayangi binatang, sehingga binatang pun membalas kasih sayangnya. Joko Sembada memiliki pedoman hidup bahwa segala benda yang berada di atas bumi, termasuk binatang adalah sama-sama sebagai ciptaan Tuhan yang harus dicintai dan disayangi. Jika hal ini dilakukan dengan sepenuh hati, sekalipun itu binatang buas akan tahu balas budi. Hal ini terbukti seperti yang Joko Sembada alami.

 

Like Fans Page Zona Krucil: https://goo.gl/WMuwF1