“Ikut, yuk!” ajak Toni pada Gior.

“Ke mana?” tanya Gior yang sedang asyik membaca buku cerita anak di teras rumah. Keduanya memang bertetangga dekat.

“Kalau aku kasih tahu sekarang, nggak seru, dong!”

Gior tampak berpikir sejenak.

“Udah, buruan, ayo!”

Gior pun meletakkan bukunya di teras, lalu mengekor langkah Toni, sementara benaknya diserbu tanda tanya. Toni mau ngajak aku ke mana, sih? Batin Gior penasaran.

***

Ternyata, Toni mengajak Gior menuju halaman rumahnya yang banyak ditumbuhi pohon sawo dan jambu biji.

“Hlo, kamu mau manjat pohon sawo? Bukannya enggak ada buahnya, Ton?” Gior heran melihat Toni melepas sandal jepitnya dan bersiap memanjat pohon sawo yang rindang tapi tak tampak ada buahnya.

“Hehe, penasaran, ya, Gi? Baiklah, akan aku jelaskan misiku memanjat pohon sawo ini,” ujar Toni sambil tersenyum.

Gior menyimak cerita Toni dengan serius. Ternyata, tujuan Toni memanjat pohon sawo karena ingin mengambil sarang burung peking. Menurut pengamatannya beberapa hari ini, burung peking tersebut baru saja menetaskan anak-anak burung yang sepertinya lucu-lucu.

***

Misi Toni memanjat pohon sawo untuk mengambil sarang burung peking di sela-sela rimbun dahan pohon pun berhasil.

“Wah, ada tiga ekor ternyata,” kata Toni dengan raut girang.

“Lucu dan imut-imut banget, ya? Memangnya kamu sudah menyiapkan sangkar burungnya?” tanya Gior.

“Sudah, yuk kita ambil sangkarnya,”

Gior mengekor langkah Toni menuju ke rumahnya.

***

“Assalamualaikum.”

Toni dan Gior yang sedang asyik bermain dengan anak-anak burung peking di teras rumah, langsung mengalihkan pandangan.

“Waalaikumussalam,” balas Toni dan Gior serempak. Ternyata yang datang Pak Aris, ayah Toni yang baru pulang dari pasar. Pak Aris memang sehari-hari bekerja di pasar, menjaga toko kelontong miliknya.

Lalu Toni dan Gior bergantian menyalami dan mencium punggung telapak tangan Pak Aris. Toni dan Gior selalu ingat nasihat Bu Winda, wali kelas sekolahnya. Kata Bu Winda, termasuk bentuk penghormatan kepada orangtua adalah dengan menyalami dan mencium punggung telapak tangan mereka.

“Hlo, kamu dapat anak-anak burung peking ini dari mana, Nak?” tanya Pak Aris dengan raut heran.

“Dari pohon sawo di halaman rumah itu, lho, Yah,” jawab Toni tersenyum sambil menunjuk pohon sawo yang dimaksud.

“Wah, anak-anak burung pekingnya bercuit-cuit terus, pasti mereka lapar,” kata ayah Toni sambil memperhatikan ketiga burung tersebut.

“Tadi sudah Toni suapin beras, tapi enggak doyan, Yah,” kata Toni polos.

Ayah tersenyum sekilas. Beliau pun menjelaskan panjang lebar, bahwa ketiga anak burung peking itu belum mampu mengunyah makanan keras seperti beras, karena masih kecil dan lemah. Ayah menyarankan Toni agar mengembalikan sarang beserta ketiga anak burung peking tersebut ke tempat semula, agar disusui induknya.

“Tapi, Yah… Toni ingin memelihara burung ini,” Toni merasa keberatan.

“Nak, anak-anak burung ini masih kecil. Mereka masih membutuhkan perlindungan induknya. Sekarang gini, seumpama kamu dipisahkan dari ayah dan bunda, gimana perasaanmu,” ujar ayah pelan sambil tersenyum, berusaha memahamkan anaknya yang baru duduk di bangku kelas dua SD itu. Toni tampak termenung mendengar nasihat ayahnya. Ah, tentu saja aku nggak mau dan akan merasa sangat sedih kalau sampai ada orang yang memisahkanku dengan keluargaku, gumam batin Toni.

Tiba-tiba, seekor burung terlihat beterbangan ke sana kemari di depan halaman rumah. Sesekali burung itu turun ke tanah sambil bercuit-cuit dan melompat ke sana-kemari.

“Nah, itu pasti induk burungnya, kalian lihat sendiri kan ia sangat kebingungan mencari ketiga anaknya yang tiba-tiba saja hilang,” kata ayah.

“Iya, sepertinya itu induknya Ton,” kata Gior sambil memperhatikan burung peking tersebut bercuit-cuit terbang ke sana-kemari.

Akhirnya, Toni dan Gior pun sepakat untuk mengembalikan sarang burung beserta ketiga anak burung peking tersebut ke pohon sawo.

“Manjat pohonnya hati-hati ya, Nak,” pesan ayah sebelum Toni dan Gior melangkah menuju pohon sawo di halaman rumah. Ayah sengaja membiarkan Toni memanjat pohon sendiri karena pohon sawo tersebut tidak terlalu tinggi, jadi tidak berbahaya.

“Iya, Yah,” Toni mengangguk sambil tersenyum.