”Yakin kamu mau menginap? Benar kamu tidak rewel minta pulang? Ingat, jarak rumah ke tempat Kakek Asti tidak bisa dibilang dekat,” kata Mama.
“Kan ada sahabat-sahabatku, Ma?” Dina merajuk. Mama diam. Mama tidak yakin anak semata wayangnya sanggup berpisah selama beberapa hari. Dina anak yang manja.
“Biarlah dia belajar mandiri, Ma,” kata Papa menimpali. Dina senang mendapat dukungan Papa. Akhirnya, Mama mengalah.

Hari yang ditunggu tiba. Dina, Rina, dan Thea berkumpul di rumah Asti. Papa dan Mama Asti yang akan mengantar mereka. “Sudah siap anak-anak?” tanya Om Hendra, Bapak Asti.
“Siap, Om,” teriak mereka serempak.

Mama masih terlihat khawatir melepas kepergian Dian. Mukanya menunjukkan rasa cemas. Dina menghampiri mamanya. “Jangan khawatir, Ma. Aku bisa jaga diri kok” Dina mengucapkan salam perpisahan dan mencium mamanya.

Perjalanan menuju rumah kakek Asti sangat mengasyikkan. Sepanjang perjalanan, empat sekawan terlihat sangat riang. Mereka bernyanyi dan bergurau hingga tiba di rumah kakek Asti. Sebenarnya, Dina agak merinding ketika tiba di sana. Suasana desa yang temaram dan sejuk membuatnya sedikit takut. Terik mentari yang menyengat berganti dengan kesejukan yang luar biasa. Banyak pohon besar di sepanjang jalan.

Dina berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Ditambah suara tangisan memilukan yang didengarnya ketika memasuki desa ini. Jantungnya berdebar keras. Wajahnya pucat. Namun, hangatnya sambutan kakek dan nenek Asti sedikit mengurangi ketakutannya. Mereka sudah menyiapkan berbagai macam makanan tradisional.

“Ayo Nak, istirahat dulu sambil menikmati hidangan desa,” sambut Nenek ramah. “Asti, kenalkan nama teman-temanmu.”

“O iya, ini yang berkacamata, rambut ikal, pipi tembem, dan terlihat agak pucat, namanya Dina.” Dina memonyongkan mulutnya. Lalu ia mengulurkan tangannya memberi salam pada kakek dan nenek Asti. “Yang kurus kering, tapi suka makan, namanya Thea. Jadi, kalau tiba-tiba makanan menghilang tanpa bekas, dialah tersangka utamanya.” Thea menunduk malu. “Nah, yang tomboy dan badannya gede ini, namanya Rina.” Rina melirik Asti. Asti memang suka sekali bergurau.

Wajah Dina masih pucat. Ia mendengar tangisan itu lagi. Suaranya seperti jeritan menyayat hati. Bulu kuduknya berdiri.“Asti, Thea, kamu dengar tidak?” tanya Dina.
“Dengar apaan? “ kompak mereka berseru.

“Suara itu. Suara jeritan itu,” kata Dina. Kembali bulu kuduknya berdiri.
“Suara apaan sih. Helo….ini masih siang, Non. Hantu-hantu keluarnya malam,” kata Thea. Jawaban Thea membuat Dina semakin takut. Ia jadi ingin pulang. Betul kata Mama.

“Sebentar… kalian diam semuanya,” kata Asti. Bak seorang detektif, ia memiringkan kepalanya seolah mencari suara. “Eh iya, ada suara. Bukan jeritan kali. Ini suara tangisan. Bayi yang menangis.” Jleb. Dina diam. Dari sudut matanya terlihat butiran air mata yang siap jatuh. Lain halnya dengan Asti. Ia malah senang melihat temannya ketakutan.

“Sudah..sudah. Asti jangan begitu dong. Lihat Dina pucat ketakutan kayak gitu,” kata Rina.
“Yuk kita cari sumber suara itu,” kata Rina. “Sepertinya tidak jauh dari sini.”
“Aku ikut,” kata Thea.

Walau takut, Dina ikut juga. Ia penasaran dengan suara itu. Mereka mendekati sumber suara itu. Nampaknya, dari pepohonan di sekitar rumah Kakek. “Eh, pohon menangis ya?” Asti menyeletuk. Dina sewot. Ia sebal. Seharusnya Asti menghiburnya. Eh malah semakin membuatnya takut. Suara yang nyaring itu mendadak berhenti ketika keempatnya mendekati pepohonan rindang itu.

“Eh, mereka diam,” kata Rina. Namun, dari kejauhan suara itu terdengar lagi.
“Anak-anak, kalian mau ke mana?” tanya Kakek.
“Yuk balik. Kita tanya Kakek saja,” kata Asti. Ia tidak tega melihat sahabatnya semakin pucat. Ketika mereka menjauhi pohon itu, suara terdengar lagi. Mereka semakin penasaran.

“Kek, Dina takut suara itu.” Akhirnya Dina mengakui bahwa ia takut.
“O… suara ini ya?” Jeritan itu terdengar lagi.
“Tidak apa-apa. Itu suara garengpung. Suaranya memang menyayat hati. Seperti tangisan. Oleh karena itu, ada yang menyebutnya kinjeng tangis.”
“Garengpung? Itu hewan ya, Kek?” tanya Asti. Mereka menjadi penasaran ingin melihat wujud garengpung alias kinjeng tangis itu. “Ayo Kek, kita tangkap.”

“Garengpung itu bentuknya seperti lalat besar. Mereka menggesekkan sayapnya hingga berbunyi seperti tangisan yang memilukan. Hewan ini hanya muncul di akhir musim penghujan. Ketika mereka menangis, itu pertanda musim kemarau akan datang.” Empat sekawan itu menganggukkan kepalanya. Sepertinya, tidak ada lagi alasan bagi Dina untuk takut. Dina malu pada dirinya sendiri yang terlalu cepat menyimpulkan suatu masalah.

 

Like Fans Page Zona Krucil: https://goo.gl/WMuwF1