Di hulu Sungai Rawa hiduplah seekor buaya. Puya Buaya namanya. Ia adalah buaya tertua di sungai itu. Ia juga sering sakit-sakitan.

Ya, Puya sering kali mengalami sakit gigi. Setiap kali ia mengigit makanan selalu saja sakit dan ngilu yang dirasakannya. Akhirnya ia hanya bisa mengeluh kesakitan.

“Aduh gigiku sakit sekali! Adakah yang bisa menolongku?” rintih Puya.
Para penghuni sungai yang berada di sana pun tidak ada yang bisa membantu Puya. Pupu Ikan Sapu-sapu, Kepi Kepiting dan Lulut Belut hanya bisa memandangi saja. Mereka tidak dapat menolong temannya itu.

“Aku punya usul bagaimana kalau kamu minta bantuan dengan Plover. Siapa tahu dia bisa menolongmu?”
Akhirnya Pupu Ikan Sapu-sapu memberikan usulan pada Puya. Puya menyambutnya dengan senang.

“Baiklah besok akan kutemui dia. Terima kasih Pupu kamu sudah peduli denganku.”
“Iya, sama-sama!” tukas Pupu.
Usai mendapatkan usul dari Pupu tiba-tiba Puya diam sejenak. Ia memikirkan sesuatu yang pernah dilakukan pada Plover. Ia pernah mencelakai kaki Plover hingga terluka.

Saat itu Plover sedang mencari makan di mulut Puya. Karena Puya mengantuk sekali tiba-tiba mulutnya mengatup sampai kaki Plover terluka. Padahal Puya melakukannya tidak sengaja. Itu karena Puya sangat mengantuk.

Hingga hal itu akhirnya membuat Plover marah pada Puya. Lalu mereka pun bermusuhan. Tidak lagi bertegur sapa.
Tapi Puya akan berusaha menemui Plover sekaligus ingin meminta maaf atas kelalaiannya yang memang tanpa tidak disengaja. Karena Puya mengatuk saat itu. Akhirnya mulutnya melukai kaki Plover yang sedang makan.

Puya jadi ingat kembali dengan kejadian itu.
Esokan harinya…Puya menemui Plover Si Burung Berekor Cabang Dua di sarangnya. Saat itu Plover sedang beristirahat karena tidak lama lagi malam tiba. Senja sebentar lagi akan memudar dan menjadi gelap.
Puya sangat sekali berharap burung itu bisa menolongnya. Walaupun Puya merasa khawatir jika Plover tidak akan menerima kehadirannya. Apalagi memaafkan dirinya.

“Hei, Kawan bisa kamu menolongku?” ucap Puya berharap pada Plover.
“Apa yang bisaku tolong,” jawab Plover.
“Gigiku yang sakit !” seru Puya.
“Aku tidak mau menolong kamu! Kamu sudah melukai kakiku,” kata Plover kesal.
“Beruntung kakiku saja yang terluka. Coba kalau aku yang tertelan di mulut kamu. Tentu aku tidak akan selamat!” lanjut Plover.

“A-aku minta maaf jika aku sudah melukai kamu, Plover. Walau sebenarnya aku tidak sengaja melukaimu. Karena saat itu aku sangat mengantuk sekali. Hingga aku tidak menyadari kalau kamu sedang ada di mulutku mencari makan,” jawab Puya.
Plover yang mendengar penjelasan dari Puya kini sadar. Ternyata Puya melukai kakinya itu bukan karena disengaja melainkan karena Puya sedang mengantuk sekali. Lagi pula bukankah selama ini Plover mendapatkan makanan dari mulut Puya? Apalagi Puya sudah mengatakan sejujurnya apa yang sebenarnya terjadi.

“Sekarang buka mulutmu yang lebar!” perintah Plover.
Akhirnya Plover luluh juga hatinya.
“Baiklah!”
Puya pun langsung membuka mulutnya lebar-lebar

Tidak lama kemudian Plover pun usai membersihkan sisa-sisa makanan yang sudah menimbun di geligi Puya. Ternyata itulah yang menyebabkan gigi Puya sakit. Karena sisa-sisa makanan itu membuat geligi Puya dipenuhi kuman lalu menjadi sakit gigi. Akhirnya gigi Puya kembali sehat atas pertolongan Plover.

Sejak saat itu akhirnya Plover kembali mencari makan di mulut Puya. Karena mereka saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Lagi pula bukankah Plover sudah memaafkan Puya? Bukan begitu, Kawan!

 

IG : @zonakrucil
FB : Zona Krucil